Jasa Fogging jambi

Jasa Fogging Nyamuk | Jasa Anti Rayap | Jasa Pembasmi Tikus | Jasa Pembasmi Kecoa

Jasa Fogging jambi

March 31, 2020 Jasa Fogging Bekasi Jasa Fogging di Bandung Jasa Fogging Nyamuk Bekasi Jasa Fogging Nyamuk di Bandung Jasa Fogging Nyamuk di Cimahi 0
[pgp_title]

HP: 081313444221 Jasa Fogging jambi, Garda Pest Control Melayani Jasa Fogging Nyamuk DBD, Jasa Fogging AC Mobil, Jasa Fogging Demam Berdarah, Jasa Fogging Desinfektan, Jasa Fogging Perumahan, Cabang Kami ada di beberapa Kota Lainnya seperi Bekasi, Bandung, Batam, Cikarang, Cirebon, Purwakarta, Solo, Jogja, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, Denpasar, Bali, Mataram dll.

 Jasa Fogging jambi

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Demam Berdarah Dengue atau disingkat DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegipty atau Aedes albopictus berkelamin betina. Demam berdarah adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan oleh nyamuk.

Penyakit ini ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis, dan menjangkit luas di banyak negara di Asia Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat menyebabkan demam berdarah, baik ringan maupun fatal. Saat ini sekitar 2.5 milliar orang, atau 40% dari populasi dunia, tinggal di daerah yang beresiko terhadap transmisi virus Dengue (WHO).

WHO memperkirakan 50 100 juta infeksi terjadi per tahun, termasuk 500.000 kasus DHF dan 22.000 kematian, sebagian besar pada anak-anak. Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia dengan angka kematian 41,3 % dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia (Buletin Jendela Epidemiologi DBD 2010). Melihat dari banyaknya kasus DBD yang terjadi, program pencegahan dan pengendalian penyakit ini pun terus digalakkan dengan tujuan menekan rantai penularan virus dengue tersebut.

Beberapa program yang sedang berjalan yaitu Juru Pemantau Jentik (Jumantik), pemberatasan sarang nyamuk (PSN), program 3M Plus, fogging dan kegiatan lainnya. Suksesnya suatu program dalam hal ini program pencegahan DBD, tergantung dari aktif atau tidak aktifnya partisipasi masyarakat untuk 4 menyukseskan program tersebut. Sehingga dalam posisi ini peran aktif masyarakat sangat penting artinya bagi kelancaran dan keberhasilan program tersebut dan tercapainya tujuan secara mantap

Morfologi Nyamuk Aedes Aegypti

a. Morfologi Nyamuk Dewasa Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran, nyamuk jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan terdapat rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata telanjang.

b. Telur Nyamuk Aedes aegypti Telur Ae.aegypti berwarna hitam dengan ukuran ± 0,08 mm, berbentuk seperti sarang tawon (Wakhyulianto, 2005). c. Larva Nyamuk Aedes aegypti Larva Ae. aegypti memiliki ciri-ciri yaitu mempunyai corong udara pada segmen yang terakhir, pada segmen abdomen tidak ditemukan adanya rambut-rambut berbentuk kipas (Palmatus hairs), pada corong udara terdapat pectin, Sepasang rambut serta jumbai akan dijumpai pada corong (siphon), pada setiap sisi abdomen segmen kedelapan terdapat comb scale sebanyak 8-21 atau berjajar 1 sampai 3. Bentuk individu dari comb scale seperti duri. Pada sisi thorax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan adanya sepasang rambut di kepala.

Ada 4 tingkatan perkembangan (instar) larva sesuai dengan pertumbuhan larva yaitu:

1. Larva instar I; berukuran 1-2 mm, duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pernapasan pada siphon belum jelas.

2. Larva instar II; berukuran 2,5 – 3,5 mm, duri–duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.

3. Larva instar III; berukuran 4-5 mm, duri-duri dada mulai jelas dan corong pernapasan berwarna coklat kehitaman.

4. Larva instar IV; berukuran 5-6 mm dengan warna kepala gelap.

d. Pupa Nyamuk Aedes aegypti Pupa Aeaegypti berbentuk seperti koma, berukuran besar namun lebih ramping dibandingkan dengan pupa spesies nyamuk lain.

Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti Masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes aegypti dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu telur, larva, pupa, dan nyamuk dewasa, sehingga termasuk metamorfosis sempurna atau holometabola.

a) Stadium Telur Kebanyakan Aedes aegypti betina dalam satu siklus gonotropik (waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk menghisap darah sampai telur dikeluarkan) meletakkan telur di beberapa tempat perindukan. Masa perkembangan embrio selama 48 jam pada lingkungan yang hangat dan lembab. Setelah perkembangan embrio sempurna, telur dapat bertahan pada keadaan kering dalam waktu yang lama (lebih dari satu tahun). Telur menetas bila wadah tergenang air, namun tidak semua telur menetas pada saat yang bersamaan. Kemampuan telur bertahan dalam keadaan kering membantu kelangsungan hidup spesies selama kondisi iklim yang tidak menguntungkan.

b) Stadium Larva (Jentik) Larva nyamuk Aedes aegypti mempunyai ciri khas memiliki siphon yang pendek, besar dan berwarna hitam. Larva ini tubuhnya langsing, bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif dan pada waktu istirahat membentuk sudut 6 hampir tegak lurus dengan permukaan air. Larva menuju ke permukaan air dalam waktu kira-kira setiap ½-1 menit, guna mendapatkan oksigen untuk bernapas. Larva nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang selama 6-8 hari.

Berdasarkan data dari Depkes RI (2005), ada empat tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu:  Instar I : berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm  Instar II : 2,5-3,8 mm  Instar III : lebih besar sedikit dari larva instar II  Instar IV : berukuran paling besar, yaitu 5 mm (Depkes RI, 2005) c) Stadium Pupa Pupa nyamuk Aedes aegypti mempunyai bentuk tubuh bengkok, dengan bagian kepala dada (cephalothorax) lebih besar bila dibandingkan dengan bagian perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca ‘koma’. Tahap pupa pada nyamuk Aedes aegypti umumnya berlangsung selama 2-4 hari. Saat nyamuk dewasa akan melengkapi perkembangannya dalam cangkang pupa, pupa akan naik ke permukaan dan berbaring sejajar dengan permukaan air untuk persiapan munculnya nyamuk dewasa.

Nyamuk dewasa Nyamuk dewasa yang baru muncul akan beristirahat untuk periode singkat di atas permukaan air agar sayap-sayap dan badan mereka kering dan menguat sebelum akhirnya dapat terbang. Nyamuk jantan dan betina muncul dengan perbandingan jumlahnya 1:1. Nyamuk jantan muncul satu hari sebelum nyamuk betina, menetap dekat tempat perkembangbiakan, makan dari sari buah tumbuhan dan kawin dengan nyamuk betina yang muncul kemudian. Sesaat setelah muncul menjadi dewasa, nyamuk akan kawin dan nyamuk betina yang telah dibuahi akan mencari makan dalam waktu 24-36 jam kemudian.. Umur nyamuk betinanya dapat mencapai 2-3 bulan.

Masalah Kesehatan Yang Ditimbulkan

7 Penyakit yang ditimbulkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina yang telah terinfeksi virus adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Demam Dengue atau Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus yang termasuk ke dalam genus Flaviridae. Virus tersebut menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan pendarahan. Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak manusia dengan manusia dan hanya ditularkan melalui nyamuk yang telah terinfeksi virus sebagai vektornya. Oleh karena itu, penyakit ini termasuk kedalam kelompok arthropod borne diseases. Dengue Virus memiliki 4 jenis serotipe yang beredar khususnya di Indonesia, yaitu Dengue Virus (DV) 1, DV 2, DV 3, dan DV4 (Xu et al, 2006; Suwandono et al, 2007).

Masa inkubasi penyakit berkisar antara 1 hingga 4 hari, timbul demam sehari sebelum demam. Dengan teknik diagnosis deteksi NS1, maka antigen virus telah bisa di deteksi. Sebelumnya deteksi atau diagnosis DBD mendasarkan kepada antigen-antibodi yang baru bisa dideteksi pada hari ke-3 atau 4 setelah demam berlangsung, atau hari ke-7 setelah infeksi berjalan. Teori klasik metode diagnostic membagi Infeksi Virus Dengue (lazim disebut virus Demam Berdarah) menjadi 2 kategori umum, yaitu (WHO, 1999; Depkes, 2005) Asymptomatic dengue infection or dengue without symptomsand the symptomatic dengue.

Sedangkan infeksi virus Dengue dengan gejala (the symptomatic dengue) dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

(a). Demam Dengue tanpa gejala spesifik

(b) Demam Dengue dengan demam di tambah 2 gejala spesifik yakni pendarahan dan tanpa pendarahan

(c) Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan atau tanpa shock syndrome Semua penderita, baik dengan atau tanpa gejala, baik dengan pendarahan maupun tanpa pendarahan, semuanya mengandung virus dalam tubuhnya dan siap menularkan penyakit dan menjadi FOCI sebuah KLB. Setiap kasus infeksi virus dengue dengan atau tanpa gejala, dengan atau tanpa pendarahan adalah berbahaya, karena dapat menularkan kepada masyarakat disekitarnya atau lazim dikenal sebagai population at risk. “The Secondary Heterologus Infection Hypothesis” yang dikemukakan oleh Halstead (1980) menyebutkan bahwa seseorang dapat menderita DBD jika mendapat infeksi ulangan tipe virus dengue berbeda. Misalnya : infeksi pertama 8 oleh virus dengue tipe–1 (DEN-1) menyebabkan terbentuknya antibodi DEN -1, apabila kemudian terkena infeksi berikut oleh virus dengue tipe-2 (DEN-2) dalam waktu 6 bulan sampai 5 tahun pada sebagian dari yang mendepat infeksi kedua itu dapat terjadi suatu reaksi imunologis antara virus DEN-2 sebagai antigen dengan antibody DEN – 1 yang dapat mengakibatkan gejala demam berdarah dengue. Demam berdarah baru terjadi apabila telah terinfeksi oleh virus dengue untuk kedua kalinya, atau mendapat virus dari sumber yang tidak sama. Infeksi yang pertama dengan atau tanpa obat, demam tersebut sering sembuh sendiri atau berlalu begitu saja tanpa disadari oleh penderitanya. Orang yang terinfeksi kedua kalinya pada darah atau pipa-pipa pembuluh darah dalam di dalam tubuh yang telah terkontaminasi virus dengue itu menjadi lebih sensitif terhadap serangan yang kedua kali sehingga dalam tubuh mereka yang telah terkena virus dengue biasanya akan terjadi reaksi hypersensitivity, reaksi yang berlebihan itulah yang sesungguhnya menimbulkan tanda atau gejala yang disebut demam berdarah (Indrawan, 2001). Pada dasarnya penyebab utama ialah virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk kedalam tubuh manusia hingga akhirnya manusia tersebut di diagnosa penyakit demam berdarah dengue. Nyamuk Aedes aegypti ini muncul dengan adanya lingkungan yang mendukung, seperti halnya: kubangan air, maupun timbunan barang bekas yang nyaman sebagai sarang nyamuk. Didukung pula dengan kondisi fisik manusia yang sedang mengalami penurunan imunitas, maka akan mempercepat penyebaran virus dengue tersebut. Faktor mobilitas penduduk, kepadatan penduduk maupun perilaku masyarakat yang berhubungan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa/wabah.

Berdasarkan gejalanya DBD dikelompokkan menjadi 4 tingkatan yaitu (WHO, 2009):

a) Derajat I : demam tinggi disertai gejala tidak khas. Satu – satunya tanda perdarahan adalah tes torniquet positif atau mudah memar.

b) Derajat II : gejala derajat I ditambah dengan perdarahan spontan di kulit atau di tempat lain. 9

c) Derajat III : ditemukan tanda-tanda kegagalan sirkulasi (nadi cepat, lemah, hipotensi, kaki/tangan dingin, lembab, sianosis, gelisah)

d) Derajat IV : terjadi syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah yang tidak dapat diperiksa.

Cara Penularan Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang kurang berperan. Nyamuk Aedes tersebut mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia.

Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transsovarian transmission), namun perannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan menularkan virus selama hidupnya (infektif). Di tubuh manusia, virus memerlukan masa tunas 4-6 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.

Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul (Depkes RI, 2004).

Riwayat Alamiah Penyakit

a. Fase Suseptibel (rentan) Fase suseptibel dari demam berdarah dengue menurut Gurbler et al, dalam Sumantri (2008) adalah pada saat nyamuk Aedes aegypti yang tidak infektif kemudian menjadi infektif setelah menggigit manusia yang sakit atau dalam 10 keadaan viremia (masa virus bereplikasi cepat dalam tubuh manusia). Nyamuk Aedes aegypti yang telah menghisap virus dengue menjadi penular sepanjang hidupnya. Ketika menggigit manusia nyamuk mensekresikan kelenjar saliva melalui proboscis terlebih dahulu agar darah yang akan dihisap tidak membeku. Bersama sekresi saliva inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk antar manusia. Disini keadaannya manusia masih dikatakan sehat meskipun sudah rentan akan virus dengue, sedangkan nyamuk telah terinfeksi dan siap menjadi penular DBD.

b. Fase Subklinis (asismtomatis) Fase subklinis dari demam berdarah dengue adalah setelah virus dengue masuk bersama air liur nyamuk ke dalam tubuh, virus tersebut kemudian memperbanyak diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah bening untuk kemudian masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Virus ini berada di dalam darah hanya selama 3 hari sejak ditularkan oleh nyamuk (Lestari, 2007). Pada fase subklinis ini, jumlah trombosit masih normal selama 3 hari pertama (Rena, 2009). Sebagai perlawanan, tubuh akan membentuk antibodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks virus-antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai antigennya. Kompleks antigen-antibodi ini akan melepaskan zat-zat yang merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun. Proses tersebut menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah kapiler. Hal tersebut akan mengakibatkan bocornya sel-sel darah, antara lain trombosit dan eritrosit (Widoyono, 2008). Virus telah masuk pada tubuh manusia, namun belum menunjukkan tanda maupun gejala. Jika hal ini terjadi, maka penyakit DBD akan memasuki fase klinis dimana sudah mulai ditemukan gejala dan tanda secara klinis adanya suatu penyakit. 7. Upaya Pengendalian Penanggulangan DBD 11 Untuk melakukan penanggulangan DBD di Indonesia diperlukan strategi pengendalian DBD.

Berdasarkan visi, misi, kebijakan dan tujuan pengendalian DBD, maka strategi yang dirumuskan sebagai berikut :

1) Pemberdayaan masyarakat Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pengendalian DBD. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat, maka KIE, pemasaran sosial, advokasi dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa maupun secara berkelompok atau individual dengan memperhatikan aspek sosial budaya yang lokal spesifik.

2) Peningkatan kemitraan berwawasan bebas dari penyakit DBD Upaya pengendalian DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sector kesehatan saja, peran sektor terkait pengendalian penyakit DBD sangat menentukan. Oleh sebab itu maka identifikasi stake-holders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial merupakan langkah awal dalam menggalang, meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. Jejaring kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia dimasing-masing mitra. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan, pemantauan dan penilaian melalui wadah Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL DBD) di berbagai tingkatan administrasi.

3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program SDM yang terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai keberhasilan pelaksanaan program pengendalian DBD.

4) Desentralisasi Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelolaan kegiatan pengendalian DBD kepada pemerintah kabupaten/kota, melalui SPM bidang kesehatan.

5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan 12 Meningkatkan mutu lingkungan hidup yang dapat mengurangi risiko penularan DBD kepada manusia, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan akibat infeksi Dengue/DBD.

Perlu Layanan Jasa Fogging Nyamuk Segera Hubungi Marketing Kami SILAHKAN KLIK DISINI